Kam. Okt 29th, 2020

Pantau News

Aktual dan Terpercaya

Penjelasan Bos Kalbe Farma soal Obat Corona Dibanderol Rp3 Juta per Dosis

PANTAUNEWS.COM – President Director Kalbe, Vidjongtius buka suara atas kritik mahalnya harga obat Covifor yang dijual saat ini sebesar Rp3 juta per dosis. Menurutnya, penetapan harga obat Covifor turut mempertimbangkan volume impor. Di mana produksi obat anti Corona tersebut masih diproduksi oleh perusahaan farmasi multinasional asal India, yakni Hetero.

“Produk Covifor saat ini masih diimpor oleh PT Amarox (anak perusahaan dari Hetero India) dan faktor harga selalu berbanding lurus dengan jumlah unit atau volume yang ada,” ujar dia kepada Merdeka.com, Jumat, 2/10/2020.

Menurut Vidjongtius, saat ini volume impor Covifor pada tahap awal masih tergolong rendah. Imbasnya harga jual obat anti Corona tersebut menjadi mahal per dosisnya.

Baca Juga:  Jadi Deklarator KAMI, Gatot Nurmantyo Bicara Oligarki Kekuasaan

“Jumlah unit atau volume yang ada saat ini di tahap awal volume masih kecil. Sehingga ada penyesuaian (harga),” jelas dia.

Meski demikian, Bos Kalbe meramalkan jika ke depannya harga Covifor bisa semakin terjangkau oleh masyarakat Indonesia. “Setelah skala volume bertambah maka harga tersebut akan bisa lebih rendah lagi,” tambahnya.

Kalbe juga terus berupaya agar mampu mampu memproduksi Covifor di dalam negeri. Langkah strategis ini bertujuan untuk menekan harga jual obat berjenis remdesivir organik ini. “Tentunya dengan support dari mitra kita Hetero India,” tutupnya.

Minta Pemerintah Jamin Harga jamin harga

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr. Slamet Budiarto meminta pemerintah untuk menjamin harga yang terjangkau untuk obat Antivirus Corona Covifor. Pasalnya, harga jual yang dipatok oleh PT Kalbe Farma dinilai terlalu mahal.

Baca Juga:  Total Suap-Gratifikasi yang Diterima Wahyu Setiawan Rp 1,1 Miliar

“Karena di masa pandemi, ya pemerintah harus menjamin harga yang terjangkau,” kata Slamet, Kamis, 1/10/2020.

Menurutnya, dana yang dialirkan pemerintah untuk membayar klaim rumah sakit rujukan Covid-19 tidak akan cukup, bila harus membeli obat Covifor untuk diberikan kepada pasien Covid-19. Sehingga, menurut Slamet, jalan terbaik yang harus ditempuh pemerintah yaitu dengan mensubsidi obat tersebut.

“Klaim pasien Covid-19 yang dibayarkan oleh pemerintah tidak cukup untuk membeli obat ini (Covifor), jadi pemerintah harus mensubsidi obat ini,” ujarnya.

Sumber: Merdeka.com

banner 300250

Kategori