Rab. Okt 28th, 2020

Pantau News

Aktual dan Terpercaya

Masa Penahanan Wabup Bengkalis Nonaktif Muhammad akan Diperpanjang

PANTAUNEWS.COM – Masa penahanan Wakil Bupati (Wabup) Bengkalis nonaktif, Muhammad, akan diperpanjang. Muhammad terjerat kasus dugaan korupsi pengadaan pipa transmisi PDAM di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).

Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, Muspidauan, mengatakan, perpanjangan penahanan dilakukan karena masa penahanan terhadap Muhammad hampir habis. “Perpanjangan dilakukan selama 30 hari ke depan,” kata Muspidauan, Selasa, 6/10/2020.

Terkait berkas dakwaan Muhammad, disebutkan Muspidauan dalam tahap penyempurnaan. Rencananya berkas akan dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Pekanbaru pada 13 Oktober mendatang.

“Surat dakwaannya tinggal disempurnakan. Direncanakan dilimpahkan ke pengadilan tanggal 13 Oktober karena masa penahanan M (Muhammad) bakal berakhir,” ucap Muspidauan.

Namun rencana pelimpahan berkas perkara bisa saja ditunda karena saat ini Pengadilan Negeri Pekanbaru tutup selama sepekan terhitung, 7 hingga 13 Oktober 2020. Ini menyusul ditemukan seorang pegawai terkonfirmasi positif terjangkit Covid-19.

Baca Juga:  Satres Narkoba Polres Lampung Utara Amankan Lima Orang Terduga Penyalahgunaan Narkoba

“Tidak memungkinkan pelimpahan berkas perkara M sesuai dengan yang ditergetkan. Karena itu, kami rencanakan perpanjang masa penahanannya,” ungkap Muspidauan.

Keterlibatan Muhammad dalam proyek senilai Rp3,4 miliar itu diketahui dari fakta persidangan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Pekanbaru. Muhammad merupakan tersangka ke empat.

Tersangka lain adalah Edi Mufti BE selaku PPK, Sabar Stevanus P Simalonga selaku Direktur PT Panatori Raja dan Syahrizal Taher selaku konsultan pengawas. Ketiganya sudah dinyatakan bersalah oleh pengadilan.

Muhammad ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) yang diterima Kejati Riau tertanggal 3 Februari 2020 lalu. Ia tiga kali dipanggil untuk diperiksa sebagai tersangka tetapi mangkir dan kabur.

Polda Riau menetapkan Muhammad sebagai DPO pada tanggal 2 Maret 2020. Tiba-tiba, ia mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Pekanbaru atas penetapan tersangka dirinya tapi ditolak. Pelarian Muhammad berakhir lima bulan kemudian. Muhammad ditahan di tahanan Mapolda Riau sejak Jumat, 7/8/2020.

Baca Juga:  Terima SK PKB, Anak Mantan Ketua KPU Tiga Periode Siap Dampingi Afrizal Sintong di Pilkada Rohil

Selama berstatus buronan, Muhammad sempat menetap di Pekanbaru dan pindah ke Jakarta. Selama berada di Jakarta, keberadaannya terendus dan memutuskan melarikan diri ke Bandung, Jawa Barat, hingga ke Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Ia menginap dari satu hotel ke hotel lainnya.

Ada dugaan perbuatan melawan hukum dalam pengerjaan proyek itu bersumber dari APBD Provinsi Riau TA 2013 itu. Di antaranya, pipa yang terpasang tidak sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dipersyaratkan dalam kontrak. Lalu, tidak membuat shop drawing dan membuat laporan hasil pekerjaan.

Kemudian, tidak dibuat program mutu, tidak melaksanakan desinfeksi (pembersihan pipa), tidak melaksanakan pengetesan pipa setiap 200 meter. Selanjutnya, pekerjaan lebar dan dalam galian tidak sesuai kontrak, serta penyimpangan pemasangan pipa yang melewati dasar sungai.

Baca Juga:  Havis Tampil Hari Ini di KDI MNCTV, Kadinsos Dumai Berikan Dukungan

Adapun perbuatan melawan hukum yang dilakukan Muhammad selaku Kepala Dinas PUPR Riau adalah menyetujui dan menandatangani berita acara pembayaran, surat perintah membayar (SPM), kwitansi, surat pernyataan kelengkapan dana yang faktanya mengetahui terdapat dokumen yang tidak sah, serta tidak dapat dipergunakan untuk kelengkapan pembayaran.

Selanjutnya, menerbitkan dan tandatangani SPM. Meski telah telah diberitahukan oleh Edi Mufti, jika dokumen seperti laporan harian, mingguan dan bulanan yang menjadi lampiran kelengkapan permintaan pembayaran belum lengkap.

Muhammad juga menandatangi dokumen PHO yang tidak benar dengan alasan khilaf. Perbuatan itu mengakibatkan kerugian sebesar Rp2.639.090.623.

Sumber: Cakaplah.com

banner 300250

Kategori